Tolong Menolong

Di bawah rindangnya pohon jambu, ada rumah mungil di sela-sela tumpukan batu. Penghuninya si Marmot yang baik budi. Ia selalu rajin bekerja sepanjang hari. Di ufuk timur matahari mulai merekah. Sinarnya membuat pagi ini begitu cerah. Terlihat si Marmot sibuk berkemas diri, hari ini ia mesti bekerja lebih giat lagi.

Marmot berjalan dengan penuh semangat. Ia mulai menyusuri hutan belantara yang lebat. Tujuannya ke hutan cemara sebelah tenggara, sebab di sana berlimpah ruah makanannya. Lembah ia lalui dan bukit telah ia daki, akhirnya sampailah ia di tepi telaga. “Aduh, bagaimana ini, telaga harus kuseberangi ?” gumam si Marmot seraya memutar akal.

Tiba-tiba si Marmot melihat sebatang kayu yang terapung-apung di permukaan air. “Ah kebetulan, aku punya akal yang jitu !” seru si Marmot setelah sekian lama berpikir. Kemudian tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, si Marmot melompat ke batang kayu. “Hopp…,” tapi sunguh malang sekali, lompatan si Marmot meleset. “Byur…,” si Marmot tercebur ke dalam telaga. “Tolong…tolong…!” teriaknya mengiba. Dengan sekuat tenaga batang itu hendak digapai, hanya saja kedua tangannya tak sampai.

Sementara itu jauh tinggi di angkasa, tampak seekor bangau terbang berputar-putar. Tubuhnya melayang-layang di atas telaga dengan kedua sayapnya yang terbentang lebar. Mendadak si Bangau mendengar teriakan amat lemah. Sejenak kemudian ski Bangau menoleh ke bawah. Dilihatnya si Marmot berenang dengan susah payah. “Ah, kasihan si Marmot,” bisiknya sambil mendesah.

Bangau segera menukik ke tengah telaga menghampiri batang kayu yang terapung di sana. Kemudian bangau mendorong batang itu dengan paruhnya mendekati Marmot yang hendak ditolongnya. Berkat pertolongan si Bangau, sahabatnya, selamatlah nyawa si Marmot dari bahaya. Keluar dari telaga ia berjalan tertaih-tatih sambil tak lupa mengucapkan terima kasih kepada si Bangau.

Selang beberapa hari sejak peristiwa itu, tampak si Bangau terbang dengan gontainya. Kedua sayapnya yang kuat mengepak dengan lesu. Maka istirahatlah si Bangau di tepi telaga. Karena terlalu lelah, si Bangau menjadi terlena. Bangau tidak menyadari di dekatnya ada Serigala. Binatang pemangsa itu mengintainya dengan liar. Air liurnya bertetesan sebab perutnya sudah lapar.

Di saat yang berbahaya itu, datanglah si Marmot yang tahu membalas budi. Si Marmot datang untuk menolong si Bangau. Dengan gesit ia hampiri kaki pemangsa itu. Digigitnya kaki Serigala itu kuat-kuat. “Aduh..,” jerit Serigala sambil meloncat. Kaki Serigala bengkak, hingga ia menjerit-jerit. Seketika itu juga Serigala lari terbirit-birit.

Mendengar suara ribut, si Bangau jadi terkejut. Dilihatnya juga Serigala yang hendak memangsanya. Tapi untunglah dapat digagalkan sahabatnya, Marmot. “Terima kasih, Marmot,” kata Bangau seraya mengangkasa.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: