Akibat Tak Mau Menolong

Koki adalah seekor kelinci yang selalu ceria. Hari ini ia ingin tamasya. Koki berjalan menuju Pantai Gembira. Dua kantong berisi makanan tak lupa ia bawa. Siang hari sungguh panas terik matahari. Jalan ke Pantai Gembira juga masih jauh. Maka beristirahatlah Koki di bawah pohon kenari. Kakinya dilemaskan dan Koki mengusap peluh.

Dari jauh tampak Keke berjalan lenggang kangkung. Keke adalah seekor kera sahabatnya. Siang ini Keke tak lagi berwajah murung. Di sepanjang jalan Keke bernyanyi riang gembira. “Hai Koki, mau ke mana ?” tanya Keke menyapa. “Bertamasya ke Pantai Gembira,” jawab Koki ramah. Koki lalu balas bertanya,”Kamu mau ke mana?” Keke menjawab,”Ke Pantai Gembira yang terkenal indah.”

Kedua sahabat itu lalu sepakat untuk pergi bersama. Tapi Keke berjalan dengan langkah cepat. Dia tidak peduli dengan Koki yang membawa beban berat. Jalan yang dilalui amat terjal. Punggung Koki kelinci mulai terasa pegal-pegal. Meski begitu Keke tak mau berjalan pelan dan akibatnya Koki menjadi kelelahan.

“Tolong Keke, bawakan kantongku ini !” pinta Koki dengan suara pelan. “Wow, jelas aku tak mau. Bawa saja sendiri !” jawab Keke dengan terus berjalan. “Aduh Keke bawakan kantong yang satunya saja !” pinta Koki dengan mengiba. “Biarpun satu kantong, tetap saja aku tak mau !” sahut Keke sambil menggerutu.

Akhirnya Koki tak sanggup berjalan. Beban di pundaknya lalu dijatuhkan. Lapar dan haus membuat Koki lemas. Dan Keke meninggalkan Koki yang sedang lemas. Koki kelinci lalu teringat kantong makanannya. “Setelah makan tentu tubuhku segar kembali,” pikir Koki sambil membuka bungkusan nasi. Tak lupa Koki minum sepuasnya. Tubuh Koki segar kembali. Ia telah siap meneruskan perjalanan lagi. Dibayangkannya Pantai Gembira yang mempesona. Ombak berdebur lalu memecah di tepi pantai.

Keke kera telah jauh menempuh perjalanan. Ia mulai merasa lelah dan kelaparan. Keke juga merasa lapar dan kehausan. Tapi apa daya ia tak membawa bekal makanan. Keke teringat kantong makanan Koki, yang berisi minuman dan juga nasi. Pikirnya,”Lebih baik kutunggu Koki di sini. Nanti aku akan pura-pura berbaik hati.” Yang ditunggu akhirnya tiba. “Bolehkan kubawakan kantong itu, Koki ?” katanya. Koki menjawab,”Ah sayang, aku telah segar kembali. Jadi aku sanggup membawa kantong itu sendiri.”

Keke mencoba membujuk Koki sekali lagi. Kata Keke,”Bukankah kantong itu berat sekali ?” Sambil melangkah pergi Koki menjawab,”Sebagian isinya telah kumakan, jadi ringan sekali.”  Mendengar jawaban Koki, Keke hanya bisa gigit jari. Akibat tak mau menolong, Keke rugi sendiri.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: